Jejak Transmisi Komunitas Virus Corona

2021-02-01 18:00:51 GMT · oleh hokky · sosial

cov_clust.png

Jejaring Transmisi Virus Corona di Indonesia sejak Maret 2020 hingga Januari 2021. Pewarnaan simpul menunjukkan pola pengelompokan (klaster)

Infeksi ke-nol COVID-19 di Indonesia diduga mendapatkan virus tersebut saat berdansa dengan seorang Jepang di malam Valentine 14 Februari 2020, yang positif saat diperiksa di Malaysia. Dari tengah bulan hingga awal Maret 2020 saat kasus pertama tersebut diumumkan, gerbang-gerbang imigrasi masih terbuka. Semenjak kasus pertama, berbagai kasus bermunculan sehingga dikenallah dua macam transmisi, yakni “kasus impor” (imported case) dimana infeksi terjadi di manca negara, dan “klaster kasus” di mana infeksi terjadi di dalam negeri. Kasus COVID-19 meninggal pertama di Indonesia diketahui adalah orang ter-infeksi ke-25, sembilan hari setelah pengumuman Orang ke-nol, seorang perempuan berkebangsaan asing yang tergolong “kasus impor”. Meninggal dunia dengan penyakit penyerta (diabetes, hipertensi, hipertiroid, dan penyakit paru obstruksi) yang sudah menahun dan kronis diderita.

Di negeri berpenduduk 270 juta lebih yang tersebar dalam bentang kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di bumi, deteksi transmisi lokal tidak mudah dilakukan. Hal serupa dialami oleh penduduk negeri besar ini pada situasi tracing penyakit mewabah lain di masa lalu seperti AIDS, flu burung, dan lain-lain.

Hal ini dengan ditambah nuansa ketegangan yang ditimbulkan melalui jejaring media sosial yang menjadikan fasilitas kesehatan dan laboratorium pengujian di bawah spot-light. Ditambah lagi dengan ketegangan belum setahun tertantangnya kohesi sosial oleh pemilihan umum yang memposisikan pemangku kesehatan nasional, pemerintah, rentan nuansa delegitimasi oposisional.

Namun kewabahan COVID-19 ini berada dalam situasi era informasi dimana digitalisasi tengah merasuki kehidupan sosial hingga ke level individual. Informasi tak hanya mengandung data tentang suatu fakta (faktor sosial) tapi juga data tentang orang (aktor sosial). Rata-rata setiap hari orang menambahkan beberapa cuitan atau multimedia yang merupakan data media sosial populer, beberapa komentar di grup aplikasi teks, hingga sebutan-sebutan di media massa yang sebagian besar saat ini terbit juga dalam versi digital dan daring. Rata-rata orang Indonesia terkait pada beberapa ratus data points yang tersebar dalam berbagai aplikasi perangkat lunak di gawai elektronik masing-masing.

cov_clust_data_points.png

Individu (aktor) dalam relasi fakta (faktor) dalam berbagai representasi informasi pada berbagai platform data aplikasi digital

Informasi dalam kolektivitas data yang berbentuk digital tersebut menjadi substrat pemrosesan di mana berbagai operasi aljabar geometri dapat dilakukan secara komputasional. Lapis-lapis operasi numerik pada pemrosesan data kini dapat digunakan untuk membantu analis menemukan pola, bahkan di antara sekumpulan data yang dalam perspektif matematika dan sains konvensional dikatakan sebagai “anomali”. Metafora populernya adalah bahwa machine learning, yaitu mesin komputasi yang memiliki kemampuan belajar mengenali pola. Pola demi pola “dikenali” oleh sistem komputasi hingga ia bahkan bisa menirukan cara manusia belajar dan meningkatkan kecerdasan, sehingga disebut sebagai “kecerdasan buatan” (artificial intelligence). Bagaimanapun, kecerdasan sejatinya merupakan kemampuan berperilaku atas pengenalan pola-pola situasional yang dihadapi.

Dengan sedikit bantuan (supervisi) analis ia dapat mengenali lokasi/tempat, faktor-faktor sosial dan aktor-aktor yang menyertainya dari arus teks informasi yang menjadi data points masing-masing individu tersebut. Pada akhirnya, berbagai informasi tentang orang yang terinfeksi COVID-19 pada teks-teks yang di-(ko)-relasi-kan atas data-data dari berbagai platform aplikasi tersebut dapat dilanjutkan (ko)-relasi-nya dengan statistik orang yang terinfeksi virus di suatu tempat pada suatu waktu tertentu.

cov_clust_process.png

Kelindan blok proses dan modular sistem untuk perekaan jejak transmisi komunitas COVID-19

Ini kemudian menjadi alternatif penelusuran untuk reka jejak sosial transmisi komunitas dari virus Corona pada keunikan skala, variasi, dan situasi seperti di tanah air. Dari sistem ini, misalnya, sejak Maret 2020 hingga Januari 2021 telah dicatat lebih dari 2.000 klaster transmisi virus Corona penyebab COVID-19 di Indonesia. Rata-rata tiap hari dicatatkan sekitar 6 hingga 9 klaster baru yang terbentuk sebagai bentuk transmisi komunitas virus yang sangat mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya ini. Penambahan, koreksi, dan penelusuran dilakukan terus-menerus, hingga saat ini, dalam peta jejaring transmisi dari pasien pertama hingga yang ter-update belakangan.


Hokky Situngkir

Hokky Situngkir
Departemen Sosiologi Komputasional
Bandung Fe Institute