Refleksi Komputasional Hubungan Kebudayaan Sunda dan Air

2016-07-18 06:11:34 GMT · oleh Mr Robot · budaya

Simulasi berbasis agen (agent-based model) di atas citra lanskap.

Simulasi berbasis agen (agent-based model) di atas citra lanskap yang diambil dari satelit dan drone pada kondisi sebelum (kiri) dan setelah (kanan) pembangunan taman kota.

Sejak zaman dahulu kelompok-kelompok etnis di Indonesia memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada air, dalam kehidupan mereka. Pada masyarakat tradisional Sunda di Jawa Barat, air dinamai “kabuyutan”, yang secara harfiah berarti “leluhur”. Sebuah penghormatan dengan narasi magis dan sakral di dalamnya.

Penghormatan ini terefleksikan dalam tata cara masyarakat Sunda tradisional dalam mengembangkan wilayah. Mereka menggunakan konsep “Tri Tangtu”, dimana lahan dibagi atas 3 fungsi yaitu leuweung larangan” (fungsi konservatif), “leuweung tutupan” (buffer atau fungsi pendukung), dan “leuweung garapan” (fungsi ekonomi). Konsep ini melahirkan zonasi kawasan, seperti yang terlihat jelas di Kampung Naga, Tasikmalaya.

Wawasan konservasi air ini juga terefleksikan dalam tata cara pembangunan rumah. Jika peradaban Tiongkok mengenal Feng-Shui maka kebudayaan Sunda mengenal “Warugan Lemah”. Naskah kuno ini sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional.

Ada beberapa tempat yang tidak disarankan untuk membangun rumah, misalnya tanah di antara dua aliran sungai (Sri Madayung), tanah dekat percabangan sungai (Talaga Kahudanan), tanah yang berada di bawah aliran sungai (Si Bareubeu), serta membelakangi bukit. Lokasi rumah disarankan dekat dengan proses ekonomi dan berjarak tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari sumber air.

Pemukiman organik di Kampung Naga, Tasikmalaya (kiri) dan Sungai Cikapundung, Kota Bandung (kanan).

Pemukiman organik di Kampung Naga, Tasikmalaya (kiri) dan Sungai Cikapundung, Kota Bandung (kanan), yang memiliki lahan untuk konservasi air (A), lahan untuk perumahan (B), serta lahan pertanian/komersial (C).

Konsep pembagian lahan yang memiliki wawasan konservasi air tersebut ternyata juga muncul di beberapa pemukiman organik yang muncul di wilayah perkotaan Sunda modern, misalnya di beberapa titik di Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung. Namun karena tekanan populasi dan keterbatasan ruang, daerah bantaran sungai menjadi dipenuhi pemukiman-pemukiman padat dan kumuh. Akibatnya air sungai menjadi kotor dengan sampah domestik.

Alternatif solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan membuat area penyangga di antara pemukiman dan sungai. Rekomendasi ini juga terlihat dalam beberapa pemukiman masyarakat Sunda tradisional. Pada pemukiman tradisional Kampung Naga di Tasikmalaya, misalnya, ada zona penyangga selebar 16-35 meter antara pemukiman dan sungai. Solusi ini coba diterapkan di bantaran Sungai Cikapundung. Wilayah pemukiman padat di bantara sungai ditransformasi menjadi taman kota.

Wilayah pemukiman padat di bantaran Sungai Cikapundung, Kota Bandung, yang diubah menjadi taman kota.

Wilayah pemukiman padat di bantaran Sungai Cikapundung, Kota Bandung, yang diubah menjadi taman kota.

Apakah upaya mengubah bantaran sungai menjadi taman kota efektif untuk mengurangi sampah? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis menggunakan pendekatan simulasi komputer berbasis agen (agent-based model). Simulasi dilakukan di atas citra lanskap yang diambil dari satelit dan drone.

Hasil simulasi menunjukan bahwa jumlah sampah perkapita cenderung meningkat dengan adanya taman kota. Namun jumlah sampah yang mengotori air menurun secara drastis. Hal ini terjadi karena taman kota memiliki manajemen pengawasan dan pengolahan sampah yang lebih baik. Transformasi penggunaan lahan dari daerah kumuh menjadi taman kota telah memberikan hasil yang positif bagi revitalisasi sungai di perkotaan.

Simulasi komputer yang dijalankan di atas citra lanskap yang diambil dari satelit dan drone akan memberikan pengalaman situasi faktual atas interaksi agen-agen sosial di masyarakat. Pada akhirnya kita akan diperoleh eksplorasi teoritis dan kebijakan publik yang lebih tajam.


Hokky Situngkir

Hokky Situngkir
Departemen Sosiologi Komputasional
Bandung Fe Institute