Dimanakah “Tumit Achilles” dalam Perekonomian Indonesia?

2016-04-25 05:37:03 GMT · oleh Rolan M. Dahlan · ekonomi

Dinamika tingkat harga menurut kelompok pengeluaran.

Dinamika tingkat harga menurut kelompok pengeluaran di Indonesia dari Desember 2005 hingga Maret 2016. Bulan Desember 2005 = 100. Sumber data mentah dari BPS.

Pada mitologi Perang Troya kita mengenal sosok Achilles, seorang prajurit legendaris yang kebal terhadap segala senjata. Satu-satunya cara untuk membunuh Achilles adalah dengan melukai tumitnya.

Cerita ini mirip dengan kisah Duryodana dalam lakon Mahabharata. Bima hanya dapat mengalahkan Duryodana dengan memukul pahanya menggunakan Gada Rujakpala. Mitologi tersebut seolah berpesan, “selalu ada titik lemah bahkan dalam yang terkuat sekalipun.”

Dalam satu dekade terakhir ekonomi Indonesia tumbuh dengan sangat cepat, nomor dua setelah China. Lalu pertanyaannya, dimanakah titik lemah atau “tumit Achilles” dalam perekonomian Indonesia?

Pada pemerintahan SBY, sektor enegi dipandang sebagai tumit Achilles perekonomian Indonesia. Ratusan triliun digelontorkan setiap tahun untuk subsidi energi. Pada era Jokowi, tampaknya pandangan tersebut bergeser. Sektor transportasi, sebagaimana telah dibahas dalam artikel sebelumnya, dianggap sebagai titik terlemah. Ratusan triliun rupiah digelontorkan untuk membangun bandara, jalan tol dan non-tol, rel kereta, pelabuhan hingga untuk subsidi kapal (tol laut).

Kelompok Pengeluaran Inflasi (Tahunan)
bahan makanan 9,19%
makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 7,01%
perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 4,89%
sandang 5,38%
kesehatan 4,63%
pendidikan, rekreasi dan olah raga 4,95%
transpor, komunikasi dan jasa keuangan 3,62%
total (rata-rata tertimbang) 6,01%

Tingkat inflasi menurut kelompok pengeluaran di Indonesia tahun 2006-2016.

Jika dilihat dalam perspektif inflasi, tampaknya kedua pandangan tersebut keliru. Sektor energi dan transportasi bukanlah tumit Achilles perekonomian Indonesia. Berdasarkan bobot dan kontribusi inflasi yang diberikan, tampaknya titik terlemah berada di sektor pangan, khususnya pada bahan makanan.

Urbanisasi semakin memperburuk prospek masa depan sektor pangan di Indonesia. Pada tahun 1980, 77,71% penduduk tinggal di wilayah pedesaan. Pada tahun 2015 ia terpangkas menjadi 46,70%. Pada tahun 2035 persentase penduduk desa diperkirakan akan berkurang menjadi 33,40%. Jumlah penduduk desa semakin berkurang, sementara itu jumlah penduduk kota meningkat secara drastis.

Penduduk desa dan kota.

Jumlah penduduk Indonesia di kota dan desa berdasarkan data Sensus Penduduk serta hasil proyeksi Supas (Survei Penduduk Antara Sensus) 2015.

Mayoritas bahan makanan diproduksi di wilayah pedesaan. Satu-satunya cara untuk mengimbangi arus urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang begitu kencang adalah dengan meningkatkan produktivitas petani, peternak dan nelayan di wilayah pedesaan. Dalam perhitungan penulis, untuk mempertahankan level konsumsi yang ada sekarang, produktivitas sektor pangan harus ditingkatkan 39,82% dalam 20 tahun ke depan. Jika kita ingin menambah asupan gizi (kalori dan protein) perkapita maka produktivitas sektor pangan harus didorong lebih tinggi lagi.

Lalu bagaimana kontribusi pengembangan sektor pangan terhadap makro-ekonomi Indonesia?

Jika inflasi bahan makanan dapat dipangkas maka inflasi di sektor makanan jadi juga akan berkurang. Kemudian biaya tenaga kerja juga ikut terpangkas. Dan akhirnya seluruh sektor akan merasakan dampak positif.

Penulis coba melakukan perhitungan sederhana interaksi sektoral tersebut dengan menggunakan model rantai Markov pada data makro-ekonomi Indonesia tahun 2006-2016.

Jika misalnya inflasi bahan makanan dapat ditekan dari 9,19% menjadi 6% pertahun maka inflasi diperkirakan akan turun dari 6,01% menjadi maksimum 4,92%. Digunakan nilai maksimum, perhitungan penulis terbatas pada orde kedua. Pertumbuhan ekonomi kemudian akan terdorong dari 5,7% menjadi minimum 6,3% pertahun.

Sangat signifikan bukan?


Rolan M Dahlanr

Rolan M. Dahlan
Departemen Ekonomi Evolusioner
Bandung Fe Institute