Wajah SocMed Politik Kita

2016-02-03 01:07:45 GMT · oleh Hokky Situngkir · politik

Rata-rata harian jumlah dan ukuran komunitas politik selama pemilu 2014.

Rata-rata harian jumlah dan ukuran komunitas pengguna yang memperbincangkan sejumlah tokoh politik selama pemilu 2014.

Media sosial (SocMed) menjadi bagian penting dunia politik Indonesia hari ini. Isu politik silih berganti muncul dan diperbincangkan di ruang maya. SocMed menjadikannya semacam warung-warung kopi di pelosok-pelosok nusantara zaman dahulu, saat komunikasi online masih menjadi imajinasi para teknolog dan ilmuwan komputer.

Dulu, impian untuk bisa menangkap kolektivitas perbincangan politik di warung-warung kopi hanya bisa dilakukan melalui survey. Rezim diktator Orde Baru bahkan “menumbuhkan” struktur intelijen negara hingga level lorong perkotaan dan pedesaan demi untuk mengetahui semua dinamika yang ada di masyarakat.

Hal itu mungkin tak diperlukan lagi hari ini dan di masa datang. Peradaban modern telah melahirkan berbagai aplikasi teknologi informasi. Pembicaraan tak lagi hilang ditelan sepoi angin pedesaan tapi menjadi “abadi”, tersimpan sebagai bit-bit informasi yang dapat dibaca oleh siapapun.

Tidak perlu struktur intelijen yang ribet untuk menangkap informasi tersebut. Kita cukup mengimplementasikan beberapa set algoritma komputer. Departemen Computational Sociology Bandung Fe Institute dalam 3 tahun terakhir ini mengembangkan algoritma yang, mampu membaca “kicauan” pengguna Twitter Indonesia untuk melihat bagaimana struktur sosial terbentuk di dunia maya. Kolektivitas informasi kemudian dapat diektrak, bukan sebagai sampling, tapi sebagai produk dari populasi seluruh mereka yang “berkicau” melalui gadget masing-masing.

Volume twit dan jumlah akun baru terkait pemilu di Twitter.

Volume twit dan jumlah akun baru yang terlibat pembicaraan terkait pemilu di Twitter. Keterangan: a. deklarasiJoko Widodo sebagai calon presiden; b: kampanye pileg; c:pemilu legislatif; d:deklarasi capres; e: debat kandidat; f:debat kandidat; g: debat kandidat; h:debat kandidat/akhir masa kampanye; i:pilpres.

Refleksinya terlihat pada Pemilu 2014 yang dapat dipandang sebagai momentum masuknya dunia politik Indonesia ke era SocMed. Jutaan akun SocMed menjadi sangat politis, mulai dari sekedar memperbincangkan isu politik yang terjadi sampai aktif melakukan penggalangan. Dalam kurun waktu Februari sampai Juli tercatat ada sekitar 19.590.068 percakapan dari 5.754.546 akun twitter.

Ketika panggung politik terbelah dalam dua arus kandidat presiden, “specimen” SocMed pun “terbelah”. Kelompok-kelompok perbicangan bermunculan dan secara kolektif memiliki warna yang menunjukan kandidat yang dominan diperbicangkan.

Statistik percakapan dengan topik Jokowi dan Prabowo pun bersaing. Rata-rata harian ukuran maksimum komunitas percakapan “Jokowi” adalah 1700 akun, lebih besar dari topik tentang “Prabowo” yang partisipannya sekitar 1200-an. Perlu dicatat bahwa percakapan tidak serta-merta menunjukan pilihan politik. Tapi setidaknya inilah gambaran kuantitas topik-topik di seputar isu pencapresan keduanya.

Komunitas-komunitas yang mempercakapkan calon presiden RI 2014.

Komunitas-komunitas yang mempercakapkan calon presiden RI 2014. Makin besar bulatannya, makin besar jumlah partisipannya. Warna menunjukan arah preferensi dukungan. Di masing-masing bulatan ditunjukkan siapa akun yang paling sentral membicarakan topik-topik tersebut. Menarik untuk mengamati bahwa yang paling sentral dalam masing-masing komunitas, tak mesti seorang selebritas atau “seleb-tweet“.

Media sosial telah membentuk perilaku dan cara berpolitik baru, baik di level elit maupun publik, yang tidak kita kenal di era sebelumnya. Model komunikasi, kampanye, pembentukan opini dan strategi politik ikut berkembang, menyesuaikan dengan perilaku publik di media sosial.

Di satu sisi, menjadi bijak memberi pujian dan menerima makian adalah harapan kita saat berpolitik dengan media sosial. Biarlah politik menjadi topik yang menghibur kita di sela-sela kesibukan sehari-hari, tak usah dunia nyata dan pergaulan sehari-hari terbawa dan terimbas suasana tegang di dunia maya. Di sisi lain, biarlah para politisi, aktor politik, pimpinan partai, aktivis, maupun kandidat menjadi makin dewasa, cerdas, makin menghargai sains dan teknologi, yang mereka gunakan untuk menyerap aspirasi dan informasi dari pembicaraan-pembicaraan para warga “republik twitter”.


Hokky Situngkir

Hokky Situngkir
Departemen Sosiologi Komputasional
Bandung Fe Institute