Batik dan Persebaran Islam di Pulau Jawa

2015-10-19 14:38:19 GMT · oleh Hokky Situngkir · budaya

Komparasi evolusi batik dan perkembangan kesultanan Islam di Pulau Jawa

Komparasi evolusi batik dan perkembangan kesultanan Islam di Pulau Jawa

Pada artikel sebelumnya telah dibahas penggunaan metode biologi evolusioner dalam melihat perkembangan batik di Indonesia. Ribuan sampel motif dari berbagai daerah penjuru tanah air diproses secara komputasional sehingga menghasilkan pohon filomemetika, yang menggambarkan evolusi motif batik di Nusantara.

Pohon evolusi yang dihasilkan menunjukkan terjadinya pengelompokan batik berdasarkan wilayah. Metode ini telah memberikan kita semacam ‘tes DNA’ untuk batik. Kita secara probabilistik dapat menebak asal daerah dari sebuah motif batik acak.

Memang ada beberapa motif batik yang meleset dari lokasi aslinya. Contohnya motif batik Cirebon yang dari hasil perhitungan masuk dalam kelompok batik Indramayu.

Motif-motif batik yang tidak dapat ditebak lokasinya dengan akurat tersebut, umumnya adalah motif-motif inovasi baru. Inovator batik seringkali membuat desain baru dengan menggabungkan karakteristik dari sejumlah daerah. Akibat komputer tidak mampu mengidentifikasi asal usulnya secara akurat.

Namun secara umum jumlahnya relatif sedikit. Sampel motif batik yang meleset dari lokasi aslinya kurang dari 10 persen.

Proses filterisasi pohon evolusi batik

Proses filterisasi pohon evolusi batik

Untuk mendapatkan gambaran evolusi batik lebih baik, kita harus memfilter pohon evolusi batik dengan mensisihkan motif-motif inovasi baru tersebut. Dari proses ini diperoleh pohon evolusi motif batik berdasarkan asal daerah.

Pada bagian selanjutnya coba dikaji hubungan evolusi batik dengan perkembangan Islam di Pulau Jawa.

Kesultanan Demak, yang berdiri pada akhir abad ke-15, merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Wilayah Demak perlahan terus meluas, hingga mencakup wilayah Kalinyamat, yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, dan Rembang.

Setelah melewati serangkaian konflik yang cukup panjang, pengaruh Demak digantikan oleh Kesultanan Mataram yang berpusat lebih ke wilayah pedalaman. Pengaruh perlahan mulai meluas ke daerah barat Jawa Tengah. Pada awal abad ke-17, pengaruh Kesultanan Mataram terus meluas, hingga mencapai wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Peta persebaran pengaruh kesultanan islam di Pulau Jawa

Peta persebaran pengaruh kesultanan islam di Pulau Jawa

Ada temuan yang sangat menarik di sini. Pola evolusi motif batik memiliki kesesuaian yang sangat tinggi dengan perkembangan kesultanan Islam di Pulau Jawa. Perkembangan batik modern tampaknya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan agama islam.

Penulis berspekulasi bahwa hal ini terjadi akibat dari “semangat akulturasi Sunan Kalijaga”. Sebelum masuk islam ke Pulau Jawa, kemungkinan sudah ada batik. Namun motifnya sangat berbeda dengan batik yang ada sekarang. Motif-motif batik kuno tersebut diduga menyerupai bentuk relief di Candi-candi. Ia dipenuhi penggambaran manusia dan hewan secara utuh serta memiliki fungsi narasi atau menceritakan kisah tertentu.

Setelah islam masuk ke Pulau Jawa terjadi proses akulturasi. Penggambaran sosok manusia digantikan dengan simbol yang merepresentasikan karakter tertentu. Penggambaran hewan masih diperbolehkan sepanjang dilakukan secara parsial. Misalnya pada burung hanya mengambar bagian sayapnya saja, seperti pada motif sawat. Corak motif tumbuhan dan pola geometris menjadi lebih dominan.

Proses akulturasi tersebut akhirnya melahirkan batik modern, seperti yang kita kenal sekarang. Batik, yang kita kenakan sehari-hari, adalah karya yang lahir dari hubungan yang harmonis antara agama dan budaya. Semoga warisan indah dari masa lalu ini dapat dijadikan kearifan dalam melukis masa depan.


Hokky Situngkir

Hokky Situngkir
Departemen Sosiologi Komputasional
Bandung Fe Institute